Lingga Satu
Lingga

Pengumpul Batu, Diantara Deburan Ombak dan Terik Matahari Pantai Batu Berdaun

Linggasatu.com — Debur ombak dan teriknya panas matahari tak jadi halangan buat Samsul Bahri (47) Untuk tetap mengais rezeki dengan mengumpulkan batu-batu dipinggiran pantai bahkan hingga sampai jauh ke laut dalam, diwilayah pesisir pantai Batu Berdaun Desa Batu Berdaun, Dabo Singkep Kabupaten Lingga Kepulauan Riau.

Pantai Batu Berdaun

Sengatan panas matahari adalah hal yang biasa membakar kulit lelaki paruh baya ini, dengan penuh rasa semangat dan membuang jauh rasa jenuh, Samsul telah mengeluti pekerjaan ini hampir 7 tahunan.

Samsul Bahri

“Sudah hampir 7 Tahunan kerja ngumpulin batu, lapangan kerja tak ada cuma pekerjaan ini yang bisa dikerjakan, agar dapur tetap ngepul” pungkas lelaki paruh baya yang memiliki dua orang anak ini. Minggu (20/01/2019)

Samsul Bahri sedang memecahkan bebatuan yang ukurannya besar

Seraya memilih dan memilah bebatuan yang ukuran berbeda jauh lebih besar dari yang lainnya, Samsul Bahri melanjutkan ceritanya yang mana batu yang ukurannya lebih besar dipecahin terlebih dahulu agar seukuran dengan batu lainnya. Dengan bermodalkan martil satu persatu bebatuan tersebut dipecahkan dan selanjutnya dimasukkan kedalam karung bekas semen. Untuk satu karung semen biasanya dihargai Rp. 3.000 perkarungnya oleh penampung. Menurutnya harga tersebut tidak layak karena sepengetahuannya batu tersebut dijual kembali oleh penampung dengan harga Rp. 6000 perkarungnya.

Tumpukan batu yang sudah dikemas didalam karung bekas semen

“Batu yang agak besar harus dipecahkan dulu agar seukuran, harga perkarung biasanya Rp 3000, harga segitu layak tak layaklah yang penting dapur ngepul” ungkap Samsul sambil memecahkan satu persatu bebatuan yang tampak berukuran besar

Ponton yang digunakan jika mencari batu jauh ke laut dalam

Kata Samsul kerja mencari batu tersebut, juga dilakoni oleh warga sekitar yang berkediaman dipesisir pantai Batu Berdaun, lokasi pencarian batu tidak hanya sebatas bibir pantai melainkan terkadang harus sampai menjorok kelaut dalam dengan menggunakan Ponton atau pelampung rakitan yang digunakan untuk mencari batu kelaut dalam.

Ponton milik Yusuf

“Ada sekitar belasan orang warga sekitar yang sama-sama bekerja pengumpul batu, untuk lokasi pencairan kami bahkan sampai puluhan meter dari bibir pantai” ungkap Samsul

Hal senada juga disampaikan oleh Yusuf (48) yang kebetulan berada di pesisir pantai tersebut, yang saat itu baru pulang melaut, selain melaut dirinya juga bekerja sebagai pengumpul batu. Merasa penghasilan mengumpulkan batu tidak cukup memenuhi kebutuhan sehari-harinya dirinya juga berupaya untuk menambah penghasilan, mulai dari pagi hari hingga siang dirinya turun melaut dengan menggunakan perahu (boat) yang dimilikinya.

Yusuf pulang melaut yang telah ditunggu oleh anak dan istrinya dibibir pantai

“Dari pagi hingga siang saya kelaut untuk memancing ikan, sore hingga malam saya mencari batu, harus giat karena kebutuhan semakin hari semakin mahal,” ungkap Yusuf

Seperti diketahui bebatuan tersebut biasanya digunakan oleh tukang bangunan untuk digunakan sebagai bahan campuran semen dan pasir pada pengecoran pembuatan bangunan seperti pembuatan rumah atau ruko yang ada diwilayah Kabupaten Lingga.

Editor : Fikri
Penulis : Oni