Lingga Satu
Lingga

Tahan 400 Sertifikat Lahan, Dirut PT. SSLP Dilaporkan ke Polres Lingga

Linggasatu.com — Laporan tentang dugaan penggelapan 400 sertifikat lahan milik warga desa Linau yang dilaporkan oleh Yufik Safita selaku Ketua Koperasi Unit Desa Usaha Bersama (KOPUMA) dan Distrawandi Ketua LSM Aliansi Gabungan Masyarakat Sudut Timur sedang dalam proses pihak kepolisian Polres Lingga.

Kapolres Lingga AKBP Joko Adi Nugroho, SIK. MT melalui Kasat Reskrim Polres Lingga AKP Yudi Arvian, SH. SIK membenarkan adanya laporan tersebut dan pihaknya saat ini sedang melakukan proses lebih lanjut untuk mengetahui letak permasalahan sebenarnya dengan memanggil sejumlah saksi.

“Terkait laporan tersebut kita sedang memanggil sejumlah saksi untuk mengetahui letak permasalahannya” kata Kasat Reskrim. Kamis (03/01/2019)

Ditambahkan oleh Kasat Reskrim, terkait laporan ini pihaknya telah membentuk tim untuk menindaklanjuti laporan tersebut dengan meminta keterangan dari sejumlah saksi dan mengumpulkan barang bukti.

Menurut sejumlah warga yang melapor ke Polres Lingga, laporan tersebut yang menjadi terlapor yakni Direktur Utama PT. Sumber Sejahtera Logistik Prima, yang dikarenakan pihak perusahaan tidak mengembalikan 400 sertifikat lahan milik warga setempat, pihak perusahaan malah meminta sebelum dikembalikannya sertifikat tersebut agar warga terlebih dahulu membayar ganti rugi pengurusan sertifikat sebesar Rp.4 miliar dari 400 sertifikat tersebut.

“Pihak perusahaan malah meminta ganti rugi pengurusan sertifikat senilai Rp4 miliar, karena telah melakukan pengurusan sertifikat tersebut” Ungkap sejumlah warga yang di jumpai di Polres Lingga beberapa waktu lalu.

Sementara itu menurut Yufik Safita dan sejumlah warga yang melapor, pihak perusahaan telah mendapat keuntungan, dengan membuka pabrik pengolahan kayu di Desa Linau dan telah memperoleh hasilnya dari penjualan kayu di lahan tersebut. Meskipun izin yang dimiliki oleh perusahaan bukanlah izin untuk pengolahan kayu melainkan, izin untuk melakukan perkebunan sawit di Desa Linau.

“Sudah hampir belasan tahun perkebunan sawit yang dijanjikan, tidak kunjung dibuka untuk itu kami meminta sertifikat kami kembali,” kata Yufik Safita.

Editor : Fikri
Penulis : Oni