Lingga Satu
Kolom Nasional

Sinopsis “The Long March (Darah dan Doa) Film Pertama di Akui Indonesia

LINGGASATU.COM — Tahukan anda pada hari ini 30 Maret tepatnya pada tahun 1950 setelah Indonesia merdeka, dunia perfilman Indonesia menelurkan film pertama yang berjudul “Long March, The (Darah dan Doa)” film yang disutradarai oleh Umar Ismail ini mengisahkan tentang perjalanan panjang prajurit Republik Indonesia dengan durasi 127 menit.

Film yang ditulis oleh sang sutradara Umar Ismail bersama rekannya Sitor Sitomorang, secara garis besar mengisahkan perjalanan panjang (long march) prajurit RI, yang diperintahkan kembali ke pangkalan semula, dari Yogyakarta ke Jawa Barat. Rombongan hijrah prajurit dan keluarga itu dipimpin Kapten Sudarto yang diperankan oleh Del Juzar. Pada perjalanan ditunjukkan ketegangan sepanjang jalan dan dalam menghadapi serangan udara dari musuh, Belanda. Juga ketakutan dan penderitaan lainnya.

Tak ketinggalan disinggung adanya pengkhianatan. Perjalanan diakhiri dengan telah berdaulat penuhnya Republik Indonesia pada 1950. Kisah ini disajikan dalam bentuk narasi. Fokusnya pada Kapten Sudarto yang dilukiskan bukan bagai “pahlawan”, tapi sebagai manusia.

Meski sudah beristri di tempat tinggalnya, Kapten Sudarto selama di Yogya dan dalam perjalanan ia terlibat cinta dengan dua gadis. Ia sering tampak sebagai peragu. Waktu keadaan damai datang, ia malah harus menjalani penelitian, karena adanya laporan dari anak buahnya yang tidak menguntungkan sepanjang perjalanan. Ia memilih tidak memenuhi panggilan penelitian dan memilih keluar dari tentara.

Film diakhiri dengan ditembaknya Sudarto oleh anggota partai komunis yang diperanginya waktu terjadi Peristiwa Pemberontakan PKI Madiun (1948). Suatu hal yang secara prinsip ditentangnya karena berarti perang saudara. Revolusi juga memakan korban anaknya sendiri yang baik, begitu kira-kira yang ingin dikemukakan film ini.

Film dengan nuasna hitam putih ini diperankan oleh Del Juzar, Farida, Aedy Moward, Sutjipto, Awal, Johana, Suzana, RD Ismail, Muradi, Muhsjirsani, Ella Bergen, A Rahman, Rosihan Anwar.

Film ini mempunyai sejarah penting dalam perjalanan perfilman Indonesia yang mana dimulainya pembuatan film “nasional”, walau film cerita pertama yang dibikin di Indonesia adalah Loetoeng Kasaroeng (1926). Salah satu keputusan konferensi kerja Dewan Film Indonesia dengan organisasi perfilman pada 11 Oktober 1962 adalah “Menetapkan hari shooting pertama dalam pembuatan film nasional yang pertama The Long March sebagai Hari Film Indonesia.” Meski 30 Maret (1950) telah dianggap sebagai Hari Film; serta Usmar Ismail (Perfini), di samping Djamaludin Malik (Persari), disepakati sebagai Bapak Perfilman Nasional, namun pengakuan resmi dari pemerintah baru terjadi pada 1999, setelah ditandatanganinya Keppres no 25/1999 oleh Presiden Habibie. Kisah yang sama dibuat kembali dalam film Mereka Kembali (1972).

Editor : Fikri
All Resource